Hi Deears,
Indonesia mau ulang tahun bulan ini. Iya, kita mau memperingati hari kemerdekaan Indonesia tanggal tujuhbelas nanti. Tapi kita sebetulnya sudah merdeka belum sih? Pernah merasa di kerjain nggak sama senior kamu, baik di sekolah/perguruan tinggi maupun di kantor? Kamu pelaku senioritas atau korban senioritas? Mau tau kenapa masih banyak orang bermental senioritas seperti itu? Baca sampai habis ya tulisan saya ini.
Kita tahu bahwa senioritas yang pasti diikuti oleh arogansi adalah sebuah budaya yang telah mengakar cukup lama di Indonesia. Ingat nggak, jaman dulu ada ospek atau PLONCO untuk siswa siswi baru yang sebetulnya tujuannya adalah memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi jatuhnya malah menjadi ajang kakak - kakak kelas untuk menunjukkan senioritasnya. Di beberapa tempat bahkan kemudian acara ospek ini menjadi kebablasan dan berujung kematian.
Ospek ini ada sejarahnya lho. Jadi bukannya orang Indonesia yang punya ide ospek ini. Sejarah ospek dimulai dari jaman penjajahan Belanda, dilanjutkan penjajahan Jepang sampai kemudian berlanjut ke jaman kemerdekaan. Ospek dikonotasikan sebagai hal yang menyeramkan dimana kakak kelas membentak - bentak juniornya, menggunduli kepala, bahkan ada yang memberlakukan aturan ala militer dengan hukuman - hukuman fisik yang berujung fatal. Setelah banyaknya kasus kematian di dalam masa perploncoan ini, maka ospek atau masa orientasi siswa (MOS) akhirnya sempat dihilangkan. Pemerintah bahkan sempat turun tangan dalam menangani kekerasan oleh senior dalam masa - masa ospek ini. Banyak sekolah dan perguruan tinggi yang kena teguran karena ospek - ospek yang liar.
Sebetulnya apa sih tujuan ospek itu? Bila kita kembalikan ke tujuan semula, ospek ini bertujuan untuk mengembangkan soft skills siswa baru dan memperkenalkan budaya dan lingkungan sekolah. Jadi seharusnya kegiatannya mengacu pada hal - hal yang berhubungan dengan dua hal tersebut. Eh...tapi kenapa tiba - tiba ngomongin ospek sih? Karena ospek yang salah justru akan men discourage siswa baru instead of motivating mereka secara positive dan ketika mereka menjadi senior, mereka akan membawa mental senioritas ini juga dan akan menjadi penerus kebiasaan ospek yang buruk.
Saya pribadi, dari kecil sudah biasa dididik keras dan disiplin, sekeras apapun ospek yang ada di sekolah dan perguruan tinggi, aku selalu bisa melewatinya tanpa kesulitan. Cuma satu yang ada di kepala saya ketika ospek selesai. I will never be one of those seniors. Ya, saya berjanji tidak akan pernah melanjutkan sikap senioritas itu dalam kehidupan saya.
Ketika kemudian memasuki dunia kerja dan dipercaya menjadi leader, saya tidak pernah menekan kolega yang ada di bawah tanggung jawab saya. Bahkan banyak dari mereka yang sekarang telah menjadi leader juga karena ilmu yang saya bagi dan saya ajarkan pada mereka. Ngomongin ospek di kantor, lalu apa yang harus kamu lakukan kalau kamu ketemu orang macem ini? Yang mungkin ngomongin kamu di belakang atau terang - terangan menyerangmu dengan hal - hal yang sangat annoying atau tidak menyenangkan. Pertama, approach personally. Bila masih tidak ditanggapi maka ada baiknya meminta mediasi dengan HRD. Saya yakin HRD mau membantu mediasi karena memang itu bagian dari tugas mereka. Mediasi ini sebetulnya tujuannya untuk mendengar pendapat satu sama lain ya, jadi ada baiknya membuka percakapan dengan tidak mengatakan hal - hal yang merendahkan pihak lain. Cuma ketika diskusi sama teman - teman yang mempunyai pengalaman yang sama, memang menjaga emosi itu sangat sulit, apalagi kalau sudah terjadi kesalah pahaman.
Ketika awal percakapan sudah salah, jangan berharap the other side menjadi malaikat. Karena bahkan malaikat pun bukan Tuhan. Orang yang sangat lembut hatipun bisa keluar taring dan jadi monster kalau dibentak - bentak orang lain, sementara duduk permasalahannya kurang jelas. Ada saat dimana seseorang harus menjadi monster untuk mengimbangi lawan bicaranya yang membuka percakapan dengan kalimat yang salah dan tone yang tinggi. Saya pernah menulis bagaimana menyikapi teman - teman yang aneh di kantor kan? Coba baca deh. Nah, kalau kemudian ternyata ada masalah dan itu berulang, berarti masalahnya ada pada bagaimana management mengelola soft skills para karyawannya. Management perlu menciptakan rasa secure pada setiap individu dan mencari tau seberapa takutnya karyawan kehilangan posisi atau pekerjaan sehingga menciptakan kondisi - kondisi yang tidak sehat. Mungkin perlu dipertimbangkan untuk mengadakan webinar well - being khusus untuk karyawan sehingga masing - masing individu bisa medapat pencerahan tentang bagaimana menyikapi permasalahan dalam kehidupannya.
Sebagian cara menjadi host atau senior yang baik adalah dengan selalu available atau welcome newbie bila mereka memerlukan bantuan. Jadi newbie itu tidak mudah lho. Banyak hal yang mereka perlu pelajari dan adjust at the same time. Keadaan makin rumit bila di tempat tersebut masih banyak 'kekacauan' dna komunikasi juga kurang lancar. Jadi alangkan baiknya bisa senior bisa menyediakan waktu dan menunjukkan kepedulian pada si newbie.
Terus gimana caranya jadi newbie yang baik? Berusahalah banyak - banyak mencari informasi tentang kolegamu (secara positive ya) dan budaya tempat kerjamu agar bisa mingle dengan baik. Percayalah ini memang SULIT tapi bukan berarti tidak mungkin. Saya pribadi biasanya observe dulu baru kemudian mengimbangi lawan bicara. Bukan berarti tidak menjadi diri sendiri ya, tetapi dalam era pandemik begini memang cukup sulit mengenal satu sama lain kecuali melalui obrolan pesan elektronik dan social media. Meskipun apa yang nampak di social media tidak menggambarkan seratus persen kebenanaran, tetapi paling tidak kita bisa membaca karakter seseorang dari foto - foto dan kalimat2 yang digunakan dalam setiap postingannya.
Perselisihan itu hal yang sangat wajar di dunia sekolah maupun di dunia kerja. Bagaimana menyikapi teman yang berselisih? Bersikaplah netral, jangan memanasi atau juga membuat grup yang membela salah satu pihak. Wow, ini mah bakalan hancur dengan sekejap institusinya kalau mempertahankan budaya begini.
We are coming to work not to have a war with people. Ini motto yang harus terus menerus di sematkan di kepala setiap orang. Isi kepala orang lain - lain, background pendidikan, background budaya dan cara dibesarkanpun juga lain, jadi jangan pernah berharap orang lain dengan mudah bisa memahami anda. Kalau anda berbuat kasar dan orang lain masih bisa ignore kekasaran anda, itu yang hebat bukan anda tetapi orang tersebut, yang berarti lebih mature secara emosi.
Namanya juga manusia ya, makanya harus terus belajar. Kalau tidak mau belajar stop saja jadi manusia. Again it's about communication. Suami istri saja bisa salah paham apalagi orang yang baru kenal muka di social media. 😂 It is so human asal dari awal tujuannya bukan tentang perploncoan dan arogansi ya.
Kalau kita mau membuat bangsa menjadi maju, maka mari mulai dari diri sendiri untuk tidak melestarikan budaya - budaya negative seperti senioritas dan arogansi ini. Jaman sudah berubah, cara hidup berubah (apalagi jaman pandemik ini), maka mind set kitapun juga harus kita ubah.
Selamat Ulang Tahun Indonesia. Selamat merayakan hari kemerdekaan. Rayakanlah dengan menjadi merdeka dari hal - hal negative yang merugikan diri sendiri.
XoXo
Dee