Sunday, 21 March 2021

Positive Thinking Ternyata Berbahaya



Hi Deears,

Ketemu lagi kita. Apa kabar? Masih sehat kan ya? Sehat itu adalah sebuah hal yang harus diupayakan, baik jasmani dan rohani. Tentu kita semua sering mendengar anjuran untuk selalu berpikir positif sehingga bisa selalu sehat jasmani dan rohani bukan? Tapi tau nggak? Ternyata Positive Thinking ini apabila berlebihan justru berbahaya untuk kestabilan emosi kita dan akhirnya berdampak bagi kesehatan kita. Positive thingking yang berlebihan ini disebut sebagai Toxic Positivity. Apa itu toxic positivity dan bagaiamana hal itu bisa berbahaya untuk kesehatan kita? Yuk baca sampai akhir informasi berikut yang saya himpun dari berbagai sumber.

Toxic positivity adalah konsep bahwa menjaga pikiran dan sikap tetap positif adalah cara yang tepat untuk menjalani hidup sehat dan berkualitas. Kita akan dianjurkan untuk tetap berpikir positif dalam kondisi seburuk apapun. memang sih bagus untuk melihat semua masalah dari segi positif dan hal ini bagus untuk mental well - being kita, tetapi masalahnya hidup kita tidak selalu dipenuhi hal - hal positif bukan? Kadang kita harus berhadapan dengan emosi dan pengalaman yang menyakitkan.

Perasaan atau emosi - emosi ini tidak selalu harus kita ubah menjadi emosi positif, justru kita harus menikmatinya, mengakuinya dan merasakannya dengan jujur.

Mengapa toxic positivity ini tidak baik? 

1. Menyebabkan perasaan bersalah yang berlebihan. 

Pernah mendengar kalimat ini kan "Everything will be fine. Don't worry". Padahal kita tahu pasti, bahkan kita tidak akan baik - baik saja. Tetapi karena selalu ditekankan untuk berpikir positive, kita jadi merasa berbuat salah bila kita khawatir akan suatu hal. Tentunya ini tidak baik, karena dengan demikian kita menipu diri kita sendiri dan akibatnya kita hidup dalam tekanan emosi yang asalnya dari diri kita sendiri.

2. Denial atau pengingkaran pada keadaan yang nyata.

Karena beranggapan untuk selalu positive, maka kita kemudian akan mulai mengingkari perasaan atau emosi yang berlawanan dengan being positive. Ini sangat tidak sehat buat mental - well being. Emosi harus dilepaskan. Tidak salah untuk meledak marah atau menangis. Karena dengan bisa mengekspresikan emosi - emosi tersebut, tandanya kita adalah manusia normal.

3. Menghambat pertumbuhan pribadi.

Dengan merasa bersalah, atau mengingkari emosi negative, maka yang terjadi kemudian kita tidak akan bisa tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang. Kematangan pribadi seseorang tidak ditentukan oleh umur, tetapi oleh pengalaman hidup dan bagaimana dia menyikapi permasalahan dalam hidupnya. Nah, bagaimana dia bisa belajar menyikapi permasalahan, apabila dia mengingkari masalah tersebut dan selalu berpikir bahwa semua baik - baik saja? Betul kan? 

Selama pandemik ini, banyak sekali orang berjuang dengan emosi negative karena permasalahan kehidupan. Dari yang ditingggal orang terkasih karena Covid - 19, beradaptasi dengan work from home, homeschooling, kehilangan pekerjaan sampai yang berjuang dengan masalah finansial. Jadi bagaimana caranya untuk menghindari toxic positivity?

1. Kontrol emosi negative, tetapi jangan pernah mengingkarinya. 

Emosi negative bisa menjadi bahan refleksi untuk pendewasaan anda kedepannya. Jadi jangan ingkari.

2. Bersikap realistis tentang apa yang harus anda rasakan. 

Ketika kita dihantam masalah, sangat wajar bila kita cemas, marah, kecewa dan sebagainya. Biarkan saja. Rasakan. Tapi fokus pada self -care dan cari solusi untuk mengatasi emosi anda dan masalah anda.

3. Biarkan diri anda merasakan lebih dari satu emosi.

Kadangkala ketika kita dihadapkan pada sebuah tantangan, kita merasa nervous tapi juga excited di saat yang bersamaan. Rasakan baik - baik semua perasaan itu.

4. Dengarkan orang lain dan berikan support.

Ketika orang lain curhat mengenai masalahnya, kekhawatiran, kesedihannya, jangan menutup atau menginterupsi dengan saran "Everything will be OK" dan nasihat - nasihat positif klasik lainnya. Dengarkan, support dan biarkan dia mengekspresikan emosinya. Sahabat yang baik, biasanya lebih banyak mendengar sampai selesai, sebelum memberi saran. Bahkan kadang seseorang hanya perlu didengarkan ketika sedang dalam masalah, tidak perlu saran. 

Jadi, ijinkan diri anda untuk merasakan emosi sedih, sakit, patah hati dan ekspresikan dengan jujur. Dengan menjadi jujur pada diri sendiri, maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang matang.

Mengekspresikan emosi negative bukan berarti kita mengambil action radikal ya? Tetapi lebih pada 'notice' atau menyadari bahwa kita sedang mengalami emosi negatif. Sekedar tips, ketika emosi saya selalu menuliskan hal - hal yang membuat saya emosi dalam sebuah jurnal. Dengan menulis, saya bisa membaca kembali tulisan saya dan bisa menjadikannya sebagai bahan refleksi dan mengontrol emosi saya, sehingga emosi tersebut tidak keluar dengan intensitas tinggi. Kalau anda cenderung suka curhat, maka anda bisa bercerita pada teman dekat atau keluarga. 

Nah, itu saja tips dari saya. 

Happy weekend. Stay Healthy and Happy

XoXo
Dee.


Friday, 5 March 2021

Wangsa Jelita: Tetap Cantik dengan Komoditas Lokal yang Ramah Lingkungan

Hi Deears,

Anda suka ngopi? Saya bukan hanya sekedar suka. Saya adalah penikmat kopi. Sebelum pandemik, acara kongkow bersama teman ataupun sendirian untuk menikmati kopi adalah agenda rutin saya setiap weekend. "Kopi itu rasanya sama", pendapat ini sering saya dengar. Untuk seorang penikmat kopi yang betul - betul paham cita rasa kopi pasti tidak akan setuju dengan pendapat ini. Cita rasa yang anda dapat dari secangkir kopi bukan hanya berasal dari daerah penghasilnya, tetapi juga dari proses pengolahannya. Indonesia terkenal sebagai surga kopi dunia. Tidak ada negara di dunia yang mempunyai keragaman kopi seperti di Indonesia. Di pulau Sumatera saja, sudah terdapat bermacam - macam varietas kopi dengan cita rasa yang berbeda dan aroma yang khas daerah penghasilnya. 

Rasa cinta saya pada kopi ada hubungannya dengan kecintaan saya merawat diri saya, luar dan dalam. Ketika pandemik, tentu sangatlah sulit untuk tidak stress bukan? Jangankan kongkow ngopi - ngopi, ruang gerak kita dibatasi. Mau ke salon buat spa, mau ngopi di luar, mau nge gym jadi mikir berkali - kali kan? Mikirin resiko terpapar virus Covid - 19. Pada akhirnya masa pandemik ini telah mengubah cara dan gaya hidup kita. Yang tadinya rutin perawatan ke salon, kemudian mulai mendatangkan 'salon' ke rumah atau belajar merawat diri dirumah. Seperti yang saya lakukan. Sebagai pencinta keindahan. Saya memperlakukan tubuh dan pikiran saya sebagai kanvas jiwa. Kopi yang bila diminum akan menstimulasi energi ini mempunyai fungsi sebagai relaxant ketika dioleskan ke kulit kita.  Buat saya, cantik itu berawal dari dalam dulu dan kemudian baru cara kita merawat diri kita. Saya punya formula anti stress yang layak dicoba. Saya sudah lama menggemari produk Wangsa Jelita. Selain karena produk ini sangat eco - friendly, brand lokal dari Jawa ini sudah terbukti aman untuk manusia dan juga ramah lingkungan. Bahan - bahannya terbuat dari bahan alami dan merupakan komoditas lokal. Salah satunya adalah kopi. 

Mandi adalah awal dari rutinitas perawatan tubuh. Ada sebuah terapi yang disebut Mindfulness, termasuk didalamnya mindful bathing. Mindful bathing ini adalah sebuah konsep dimana kita mandi dengan cara mengaktifkan semua panca indra kita. Jadi kita harus mempersiapkan 'panggung' untuk bisa menikmatinya. Saya selalu menyiapkan lilin, aroma terapi dan juga musik yang menenangkan. Saya memakai Sarongge Coffe Bar Soap dan kadang saya teteskan sedikit beauty oil dari brand yang sama di air bathtub. Pilihan saya Coconut oil atau Lavender oil. Aroma sabun kopinya enak banget lho. Saking sukanya, waktu itu saya membeli langsung 10 buah sabun. Packagingnya juga bagus meskipun hanya dengan sticker/label yang ditempel, tetapi untuk seorang ethnic freaks seperti saya, pasti justru akan menyukainya.

Kenapa namanya Sarongge? Sarongge adalah nama sebuah desa di propinsi Jawa Barat. Di tahun 2015, Wangsa Jelita bekerjasama dengan Green Initiative Foundation mengadakan penggalangan dana untuk kaum Ibu di desa tersebut dalam pembuatan produk sabun kecantikan. Jadi Wangsa Jelita yang memiliki makna "Dinasti Indah" ini adalah produk lokal dan juga produk yang sudah membantu pemerintah memberdayakan masyarakat. Brand ini juga sangat komit dengan konsep ramah lingkungan, seperti yang tertulis dalam sticker yang saya temukan di bagian luar packagingnya. Bahan - bahannya 100% alami dan tidak terbuat dari bahan kimia yang merugikan kesehatan. Produk ini juga memperkenalkan konsep well - being dimana setiap orang harus bisa memahami dan mengenal dirinya luar dalam, sehingga nantinya bisa membantu orang lain untuk peduli pada kesehatan diri dan juga peduli pada 'kesehatan' planet Bumi. 

Packaging bagian luar ditempel sticker ini


Acara berendam saya dengan produk Wangsa Jelita menjadi terasa mewah. Aroma sabun kopi ini sangat menenangkan. Apalagi untuk saya yang banyak menghabiskan waktu mengajar online setiap harinya. Selesai bekerja, yang ingin saya lakukan hanya berendam di bath up ditemani segelas wine dan musik jazz kesukaan saya.....dan produk Wangsa Jelita menyempurnakan hari saya. Saya merasa rilex, tidur nyenyak dan bangun segar kembali dengan penuh energi di pagi harinya. Sarongge Coffe Bar Soap ini bisa dibeli seharga Rp. 35.000,00 di lapak online shop atau kunjungi langsung website Wangsa Jelita di www.wangsajelita.comDi dalam kopi terdapat kandungan kafein, asam buah, potasium, zat besi, magnesium, lemak alkaloid dan asam organik. Semua zat tersebut sangat bagus untuk kesehatan kulit kita.

expertphotography.com

Sekedar informasi, ini adalah manfaat kopi untuk kulit kita: 
1. Menenangkan kulit (begitu juga bila dihirup sebagai aroma therapy) 
2. Sebagai anti oksidan (melawan tanda - tanda penuaan)
3. Mengurangi selulit.
4. Mencerahkan kulit.
5. Mengurangi mata panda.
6. Menghaluskan kulit.
7. Mencegah peradangan jerawat.

Jujur tadinya saya sempat ragu mencoba produk ini karena saya biasa memakai produk non - lokal seperti Lush atau The Body Shop. Tetapi ternyata sebagai produk lokal, Wangsa Jelita tidak kalah lho dengan brand tersebut. Saya sudah buktikan sendiri selama setahun ini. Hasilnya sama saja. Kulit tidak berkurang cerahnya, tetap wangi, terasa lembut dan juga kenyal. Selain itu untuk tetap cantik luar dan dalam kita harus menghindari stimulan yang menyebabkan kita stress. Untuk tips mengenai menjaga agar tetap sehat secara batin, saya suka melakukan yoga dan meditasi, tentunya ditemani aroma therapy dari Wangsa Jelita juga. Kedepannya saya harap Wangsa Jelita membuat lebih banyak varian produk untuk bar soap dan mungkin bisa membuat shower gel nya juga. 

Semoga tulisan ini berguna ya. Yuk, kita terus mencintai dan menggunakan produk lokal sebagai salah satu cara membantu pertumbuhan usaha kecil dan juga bukti kita bangga menjadi bangsa Indonesia. Salam cantik untuk semua wanita Indonesia. 😍
XoXo - Dee


Another Year, Another Resolution

Hi...Deears.. How do you end this year? I wish you end it with a grateful heart 😊  Everyone for sure has problems, obstacles in their life....