Hi Deears,
Ketemu lagi kita. Apa kabar? Masih sehat kan ya? Sehat itu adalah sebuah hal yang harus diupayakan, baik jasmani dan rohani. Tentu kita semua sering mendengar anjuran untuk selalu berpikir positif sehingga bisa selalu sehat jasmani dan rohani bukan? Tapi tau nggak? Ternyata Positive Thinking ini apabila berlebihan justru berbahaya untuk kestabilan emosi kita dan akhirnya berdampak bagi kesehatan kita. Positive thingking yang berlebihan ini disebut sebagai Toxic Positivity. Apa itu toxic positivity dan bagaiamana hal itu bisa berbahaya untuk kesehatan kita? Yuk baca sampai akhir informasi berikut yang saya himpun dari berbagai sumber.
Toxic positivity adalah konsep bahwa menjaga pikiran dan sikap tetap positif adalah cara yang tepat untuk menjalani hidup sehat dan berkualitas. Kita akan dianjurkan untuk tetap berpikir positif dalam kondisi seburuk apapun. memang sih bagus untuk melihat semua masalah dari segi positif dan hal ini bagus untuk mental well - being kita, tetapi masalahnya hidup kita tidak selalu dipenuhi hal - hal positif bukan? Kadang kita harus berhadapan dengan emosi dan pengalaman yang menyakitkan.
Perasaan atau emosi - emosi ini tidak selalu harus kita ubah menjadi emosi positif, justru kita harus menikmatinya, mengakuinya dan merasakannya dengan jujur.
Mengapa toxic positivity ini tidak baik?
1. Menyebabkan perasaan bersalah yang berlebihan.
Pernah mendengar kalimat ini kan "Everything will be fine. Don't worry". Padahal kita tahu pasti, bahkan kita tidak akan baik - baik saja. Tetapi karena selalu ditekankan untuk berpikir positive, kita jadi merasa berbuat salah bila kita khawatir akan suatu hal. Tentunya ini tidak baik, karena dengan demikian kita menipu diri kita sendiri dan akibatnya kita hidup dalam tekanan emosi yang asalnya dari diri kita sendiri.
2. Denial atau pengingkaran pada keadaan yang nyata.
Karena beranggapan untuk selalu positive, maka kita kemudian akan mulai mengingkari perasaan atau emosi yang berlawanan dengan being positive. Ini sangat tidak sehat buat mental - well being. Emosi harus dilepaskan. Tidak salah untuk meledak marah atau menangis. Karena dengan bisa mengekspresikan emosi - emosi tersebut, tandanya kita adalah manusia normal.
3. Menghambat pertumbuhan pribadi.
Dengan merasa bersalah, atau mengingkari emosi negative, maka yang terjadi kemudian kita tidak akan bisa tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang. Kematangan pribadi seseorang tidak ditentukan oleh umur, tetapi oleh pengalaman hidup dan bagaimana dia menyikapi permasalahan dalam hidupnya. Nah, bagaimana dia bisa belajar menyikapi permasalahan, apabila dia mengingkari masalah tersebut dan selalu berpikir bahwa semua baik - baik saja? Betul kan?
Selama pandemik ini, banyak sekali orang berjuang dengan emosi negative karena permasalahan kehidupan. Dari yang ditingggal orang terkasih karena Covid - 19, beradaptasi dengan work from home, homeschooling, kehilangan pekerjaan sampai yang berjuang dengan masalah finansial. Jadi bagaimana caranya untuk menghindari toxic positivity?
1. Kontrol emosi negative, tetapi jangan pernah mengingkarinya.
Emosi negative bisa menjadi bahan refleksi untuk pendewasaan anda kedepannya. Jadi jangan ingkari.
2. Bersikap realistis tentang apa yang harus anda rasakan.
Ketika kita dihantam masalah, sangat wajar bila kita cemas, marah, kecewa dan sebagainya. Biarkan saja. Rasakan. Tapi fokus pada self -care dan cari solusi untuk mengatasi emosi anda dan masalah anda.
3. Biarkan diri anda merasakan lebih dari satu emosi.
Kadangkala ketika kita dihadapkan pada sebuah tantangan, kita merasa nervous tapi juga excited di saat yang bersamaan. Rasakan baik - baik semua perasaan itu.
4. Dengarkan orang lain dan berikan support.
Ketika orang lain curhat mengenai masalahnya, kekhawatiran, kesedihannya, jangan menutup atau menginterupsi dengan saran "Everything will be OK" dan nasihat - nasihat positif klasik lainnya. Dengarkan, support dan biarkan dia mengekspresikan emosinya. Sahabat yang baik, biasanya lebih banyak mendengar sampai selesai, sebelum memberi saran. Bahkan kadang seseorang hanya perlu didengarkan ketika sedang dalam masalah, tidak perlu saran.
Jadi, ijinkan diri anda untuk merasakan emosi sedih, sakit, patah hati dan ekspresikan dengan jujur. Dengan menjadi jujur pada diri sendiri, maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang matang.
Mengekspresikan emosi negative bukan berarti kita mengambil action radikal ya? Tetapi lebih pada 'notice' atau menyadari bahwa kita sedang mengalami emosi negatif. Sekedar tips, ketika emosi saya selalu menuliskan hal - hal yang membuat saya emosi dalam sebuah jurnal. Dengan menulis, saya bisa membaca kembali tulisan saya dan bisa menjadikannya sebagai bahan refleksi dan mengontrol emosi saya, sehingga emosi tersebut tidak keluar dengan intensitas tinggi. Kalau anda cenderung suka curhat, maka anda bisa bercerita pada teman dekat atau keluarga.
Nah, itu saja tips dari saya.
Happy weekend. Stay Healthy and Happy
XoXo
Dee.



