Wednesday, 28 June 2023

Mengenal Anxiety Disorder: Panic Attack

Hi Deears,

Libur panjang, waktunya untuk melakukan hobi: travelling dan menulis. Ya, sebagai seorang guru aku memang sulit meluangkan waktu untuk liburan panjang, karena selain mengajar aku punya usaha kursus yang kubangun sebelum pandemik bersama beberapa teman-teman guru di Jakarta. Jadi liburan yang sesungguhnya adalah ketika anak-anak libur kenaikan kelas. 

Seperti yang pernah kutulis di cerita aku sebelumnya yang bisa kalian baca disini:
https://deearsdiary.blogspot.com/2023/01/pengalaman-sakit-dan-kena-panic-attack.html  aku kena serangan panik yang dipicu rasa cemas karena asam lambung dengan gejala GERD yang tidak kunjung sembuh dari bulan January hingga pertengahan Maret. Dari bulan February aku konsultasi dengan psikiater tanpa berani meminum obat yang diresepkan. Aku berani minum obat di bulan April setelah 2x konsultasi dengan beliau. Sebelum kulanjutkan, yuk kita lihat dulu sebenarnya serangan panik itu apa sih dan apa yang bisa menyebabkannya. 

Anxiety Disorder atau Gangguan Kecemasan adalah suatu penyakit medis yang sumbernya di otak kita. Dalam otak kita ini ada sebuah bagian otak yang hanya sebesar kacang almond. Fungsinya adalah mengatur emosi dan ingatan yang berhubungan dengan rasa takut dan bahagia, sehingga organ ini berperan dalam pembentukan tingkah laku, emosi dan memori. Organ ini terletak di bagian lobus temporalis otak besar yang berada di tengah otak. Mari kita lihat lebih detail tentang fungsi amigdala ini:

1. Membentuk Memori

Fungsi amigdala yang pertama adalah memberikan rasa emosi pada sebuah memori sehingga kenangan tersebut dapat tersimpan lama. Letaknya yang berdekatan dengan hippocampus membuat keduanya bekerja sama dalam menjalankan fungsi ini. Memori yang bertahan lebih lama biasanya adalah hal-hal yang bahagia atau justru suatu hal yang sangat traumatis sehingga sulit dilupakan.

2. Keterampilan Sosial

Berdasarkan sebuah study yang dimuat dalam jurnal Neurolmage, dijelaskan bahwa amigdala berfungsi memproses respon ancaman dan hubungan sosial seseorang. Amigdala juga dapat memberikan rasa percaya terhadap seseorang. Fungsinya ini juga berkaitan dengan ingatan. Jadi, kita biasanya akan lebih percaya pada seseorang yang sudah sering kita lihat daripada orang yang baru kita kenal.

3. Menghadapi Ancaman

Amigdala terhubung dengan beberapa bagian lainnya di otak, sehingga organ ini bisa mendapatkan informasi kognitif dan bereaksi terhadap suatu keadaan. Organ ini akan aktif saat tubuh melakukan fight-or-flight. Respon tersebut dilakukan saat tubuh dihadapkan dengan situasi yang mengancam dan membutuhkan reaksi menyerang atau menyelematkan diri. Menurut Dr. Andri SPKJ di dalam salah satu channel youtube nya: peran amigdala dalam respon fight-or-flight dengan mengirim sinyal atau informasi ke bagian otak lain untuk bersiap terhadap suatu ancaman. Informasi dikirim ke hipotalamus, sehingga hipotalamus dapat mengeluarkan hormon kortisol dan adrenalin. Hormon - hormon inilah yang memengaruhi fungsi fisiologis pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah. Karena itu ketika kita tubuh kita merasa terancam, napas atau detak jantung menjadi lebih cepat dari biasanya.

Anxiety Disorder pun banyak macamnya, salah satunya adalah panic disorder atau gangguan panik yang sedang aku alami. Perlu diketahui bahwa gangguan kecemasan ini adalah gangguan medis yang oleh sebab itu pengobatannya dicover oleh BPJS dan asuransi, berbeda dengan gangguan mental lainnya. Sebabnya pun macam - macam, bahkan bisa karena faktor genetik.

Kembali ke ceritaku, pada awalnya aku tidak berani minum obat dari psikiater karena takut dengan efek ketergantungan meski dosis yang diberikan adalah dosis paling kecil. Apa saja sih terjadi ketika gangguan panik itu datang? Well, karena pemicunya adalah trauma pada saat serangan asam lambung, dimana kejadiannya pada dini hari, dalam kondisi AC menyala dan aku terbangun menggigil kedinginan dengan mata berkunang - kunang, jantung berdebar dan nafas pendek sehingga dilarikan ke IGD, maka ketika aku dalam kondisi kelelahan atau terlalu lama di ruangan ber AC dan kedinginan, tubuh dan pikiranku seolah ditarik kembali ke malam traumatis itu. Tentu tubuhku akan mengalami gejala yang sama juga, jantung berdebar, nafas pendek, seperti mau pingsan. Hal ini makin menjadi buruk bila aku salah makan dan lambung menjadi sakit. Karena itu aku sempat berada dalam fase takut makan sehingga tadinya aku mengira bahwa ini adalah post-traumatic disorderTapi pada kenyataannya, aku tidak takut berada diruangan ber AC bahkan masih tidur dengan AC, yang berarti aku tidak ada trauma. Dokter kemudian mendiagnosa aku dengan gangguan kecemasan-panik dengan sebab yang masih kucari sampai sekarang bersama dengan bimbingan dokter. Memang biasanya pasien dengan gangguan panik ini sebabnya sulit diketahui, hanya dalam kasus aku memang pemicunya adalah ketakutan mau pingsan atau mau mati karena memang belum pernah kena sakit berat. 

Selama bulan January - pertengahan Maret, Dokter Internis memberikan aku pil penenang bersama dengan obat lambung agar aku bisa makan dan tidur di malam hari. Waktu itu aku justru hampir tidak pernah kena serangan panik, karena itu obat dari psikiater tidak aku minum. Sampai akhirnya aku diminta untuk endoscopy dan dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap. Tapi, baru seminggu ditangani dokter disitu dengan hanya mengganti obat golongan PPI nya, ternyata lambungku membaik, sehingga rencana endoscopy dibatalkan. Sebelumnya, aku melakukan EKG, tes darah, USG dan CT scan whole abdomen. Aku konsultasi ke bagian jantung, urologi dan obsgyn dan semua tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena itu dokter internis memintaku untuk kembali konsultasi dengan psikiater secara rutin, meskipun memang sebab lambungku sakit adalah konsumsi obat pereda nyeri selama 3 minggu karena aku sempat keseleo pangggul di bulan Desember 2022. Saran beliau cuma satu: tidak perlu takut kehilangan berat badan karena aku memang harus jaga pola makan dan diet juga olahraga 150 menit/minggu. Tiga bulan itu aku kehilangan 10 kg, dari 82kg menjadi 72kg dan sampai hari ini berat badanku 65kg. Tapi aku tidak khawatir karena aku sudah paham dengan apa yang aku lakukan dan aku minum banyak vitamin dan suplemen.

Psikiater selalu mengatakan bahwa akan sulit untuk sembuh bila aku tidak bisa memahami penyebab gangguan panik ini. Karena itu beliau meminta aku banyak bercerita tentang masa kecil, tentang keluarga, hubungan dengan teman kerja dan pasangan, gaya hidup dan sifat dasarku. Dari situ dokter mengatakan bahwa aku termasuk orang yang perfeksionis, detail dan tipe yang selalu mendapatkan apa yang aku mau. Beliau bilang orang perfeksionis kalau bekerja biasanya berharap segalanya sempurna sehingga ketika ada yang tidak pada tempatnya maka akan menjadi sebuah hal yang menjadi beban untuk pikirannya, karena dia merasa gagal. Dari situ aku belajar bahwa di dunia ini banyak hal yang memang tidak bisa kita kendalikan dan kita harus menjalaninya dengan ikhlas, sabar dan sadar. Banyak psikiater mengatakan hal yang sama pada pasien - pasiennya. Penyakit dan rasa kehilangan, rasa stress, bukan hanya aku yang mengalaminya. Banyak pasien asam lambung yang kulihat lebih parah tetapi mereka bisa mengatur perasaan mereka sehingga mereka tidak mengalami gangguan kecemasan. 

Saat ini aku hanya diberikan dua macam obat golongan benzodiazepine untuk membantu tidur. Sebetulnya satu obat harus diminum di siang hari, tapi atas ijin dokter aku minum bila perlu saja karena efeknya sedikit membuat lemas, sementara aku harus bekerja. Dokter bilang aku tidak perlu sedikit sedikit khawatir pada kesehatan aku (sekarang tekanan bola mataku sedang tinggi dan sedang dalam pengobatan juga satu bulan terakhir ini), karena bila overthinking maka nanti paniknya kambuh. Kalau kambuh rasanya bagaimana? Rasanya bangun tidur tidak nyaman, seperti gelisah tanpa sebab, malam hari sendirian dirumah tidak berani (panggil mbak untuk menemani bila suami sedang keluar negeri), tangan dan kaki berkeringat. Lalu kalau sudah begitu aku akan melakukan olah nafas dan tapping practice. Biasanya paniknya tidak jadi muncul. 


Aku masih aktif bekerja tanpa gangguan karena pekerjaan justru menjadi sebuah pengalihan. Kuncinya hanya satu, aku harus paham kapan harus istirahat agar tidak kelelahan. Pekerjaan mengajar online di sore hari banyak yang sudah kudelegasikan ke guru lain. Mengajar online di sebuah akademi pariwisata dan sekolah penerbangan pun sudah kutinggalkan. Akupun masih kuliah satu semester lagi. Jadi kesimpulannya, otakku ini overloaded, sehingga kehilangan keseimbangan dimana memang perlu dibantu obat dulu. 

Hasilnya setelah 2 bulan rutin minum obat, aku mulai bisa nyenyak tidur dan lebih relax meskipun kadang-kadang masih terganggu mimpi yang tidak jelas. Ketika bangun meski kadang masih ada rasa gelisah tapi aku sudah bisa menyambut hari dengan semangat. Memang setelah jam 3 sore semua otot tubuhku mulai lelah dan kaku (mungkin karena aku tidak minum satu obat itu), tetapi so far aku masih tahu bagaimana mengatasinya. Aku bersyukur masih bisa berfungsi normal secara sosial dan profesional, karena banyak pasien cemas yang pada akhirnya tidak bisa memahami kondisinya dan jatuh dalam depresi. Depresi adalah keadaan dimana pasien tidak bisa produktif lagi karena menarik diri dari lingkungan sosial dan lebih suka berada di dalam kamar. Tentunya, aku tidak mau jatuh dalam kondisi seperti itu. Karena itu aku banyak mengedukasi diri sendiri tentang anxiety-panic disorder melalui sumber seperti dokter atupun melalui sumber terpercaya di internet dan youtube. 

Sekarang kegiatan rutin aku di pagi atau sore hari adalah olahraga ringan seperti berdansa bachata, belly dance atau latihan otot dengan beban ringan, banyak melakukan hobi dan mengatur pola makan dan pikiran. Kalau dulu capek tetep ngotot menyelesaikan pekerjaan, sekarang aku mencoba untuk mempunyai sifat masa bodoh dalam artian positif, termasuk masa bodoh dengan hal-hal yang memang tidak perlu dibahas dan dipikirkan. Sistem saraf pusatku sedang terganggu sampai ketika mau tidurpun pikiranku bisa loncat kesana kemari, karena itu diberikan obat agar kembali seimbang. Tapi tentunya kita tidak mau selamanya bergantung sama obat kan? Jadi untuk kalian penderita anxiety, tetap berusahalah untuk mengatur pikiran dengan latihan relaksasi dan pola hidup sehat. Semoga ceritaku ini bisa menambah wawasan tentang anxiety disorder dan juga memberikan semangat pada penderita anxiety dimana saja. Jangan lupa banyak jalan - jalan ya.  Semuanya butuh proses yang berbeda - beda pada setiap orang. Semangat sembuh dan sehat kembali. 😘😘

x.o.x.o
Dee

Sumber: 

https://www.siloamhospitals.com/en/informasi-siloam/artikel/anxiety-disorder
https://lifestyle.kompas.com/read/2023/02/24/063000120/mengenal-anxiety-disorder-dan-jenis-jenisnya?page=all


https://www.youtube.com/watch?v=ZjpwDB88NRg&t=92s

https://www.youtube.com/watch?v=o3HhaHO4dG8


Another Year, Another Resolution

Hi...Deears.. How do you end this year? I wish you end it with a grateful heart 😊  Everyone for sure has problems, obstacles in their life....