Hi Deears,
Selamat tahun baru untuk kita semua. Semoga tahun ini menjadi tahun yang penuh kebaikan dan keberuntungan untuk kita semua. Amin.
Dua tahun berturut - turut biasanya aku menulis resolusi tahun baru, tetapi tahun ini aku tidak menuliskannya karena aku punya hal lain yang ingin kubagi di blog ini. Aku yakin banyak dari kalian yang mengalami hal yang sama. Asam lambung aku naik (ketika menulis blog ini, aku belum ke dokter internis jadi aku tidak tahu apa sudah masuk kategori GERD atau belum), yang parahnya ternyata dibarengi dengan panic attack dimana seumur - umur baru kali itu aku merasakannya.
Jadi begini ceritanya. Tanggal 12 Desember 2022 ototku panggulku terkilir karena mengangkat meja - meja di kelas untuk mempersiapkan acara di kelas (balada seorag gurulah ya 😅😅). Sakit itu tidak kurasakan sampai dua hari kemudian ketika membungkuk untuk mencuci baju tiba - tiba ketika berdiri aku merasakan rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit kurasakan mulai dari punggung, pinggang, panggul dan paha sebelah kanan. Aku bahkan harus merintih kesakitan setiap tidur. Karena posisi apapun terasa salah. dari rebah kemudian bangun dan sebaliknya, sakit luar biasa terutama di bagian punggung. Sehingga akupun pijat ke ahli urat. Kemudian bagian nyeri di punggung hilang. Tersisa nyeri pinggang, panggul dan paha dimana kemudian aku memutuskan ke dokter spesialis syaraf. Dokter tidak menyarankan X-Ray karena menurut beliau ini hanya otot ketarik. Aku diresepkan obat pereda nyeri (diclofenac) dan vitamin syaraf.
Sakitku ini bertepatan dengan liburan panjang setelahnya. Sehingga dengan nyeri yang masih bisa kutahan dengan minum obat - obatan itu, terbanglah aku kesana kemari untuk liburan bersama keluarga. Ketika di Jogja, aku menyempatkan untuk ke dokter spesialis syaraf juga. Yang ternyata diberikan obat yang sama: pereda nyeri (diclofenac) dan juga vitamin syaraf. Ketika obat habis akupun mengkonsumsi obat pereda nyeri yang lain dalam dosis yang lebih tinggi (Vol****n). Hari pertama aku konsumsi 100mg 1x sehari. Paginya hingga dua hari berikutnya nyeriku hilang. Ketika nyeri muncul lagi, aku konsusmsi 100mg tapi kubagi 2x minum. Paginya aku kurangi dosis menjadi 25mg dan hanya minum di pagi hari. Jam 7 malam aku konsumsi obat penurun kolesterol (sim*******n) 10mg yang dijual bebas. Kemudian terjadilah hal yang menakutkan itu.
Posisiku sudah kembali dari liburan panjang termasuk liburan tahun baru. Jadi aku sudah ada dirumah. Tengah malah aku kebangun seperti biasa untuk pipis. Hanya saja ketika aku berdiri aku merasa lemaaassss seperti tak punya tulang. Ketika menyentuh air tiba - tiba jadi makin lemas dan menggigil, diikuti sulit bicara karena mulut seperti kaku dan nafas pendek - pendek, dan pandangan kabur seperti mau pingsan. Mungkin jantungku juga berdebar kencang. Entah. Aku tidak kepikiran meraba dadaku. Yang jelas saat itu aku langsung duduk dan minta suami memberi minyak kayu putih di sekujur tubuh sambil meminta dia bersiap untuk membawaku ke IGD. Untung rumah sakitnya dekat. Selama perjalanan itu aku hanya bisa berdoa agar tetap sadar sampai IGD.
Sampai di IGD, dokter mengajakku becanda agar aku tidak panik. Beliau merekam jantungku (EKG) dan juga mengambil darahku untuk tes kolesterol dll. Selama menunggu hasilnya, aku akhirnya bisa mengeluarkan tangis yang tadinya kutahan karena takut nafasku makin sesak. Bagaimana tidak menangis, karena aku tidak menunjukkan gejala sakit berat apapun bahkan aku bahagia - bahagia aja menikmati hidup. Satu - satunya masalahku hanyalah naik berat badan hingga 15 kg (yang ternyata ini menjadi salah satu masalah kesehatanku).
Ketika hasilnya keluar aku jadi tenang karena semuanya normal. Kolesterol juga normal (mungkin karena aku minum obat penurun kolesterol sebelum tidur). Dokter bilang asam lambungku naik dipicu stress dan kurang tidur. Beliau tidak memakai istilah GERD. Mungkin karena aku tidak merasa dada panas, tidak ada sakit tenggorokan atau batuk, hanya sedikit mual saja. Hanya saja beliau menyarankan aku untuk kosultasi pada ahli spesialis dalam.
Kemudian masalah lain muncul, karena aku menjadi trauma takut terjadi lagi kejadian malam itu: takut sesak nafas, takut pingsan dan takut mati. Akupun mulai share dengan beberapa orang yang pernah mengalami GERD dan google. Ternyata dari sakit fisik memang yang paling menakutkan adalah bagian psikosomatisnya. Apalagi sejak kena covid aku merasa bernafas kok kurang lega. Masalah yang lainnya adalah kesulitan BAB. Efek dari obat lambung ternyata membuat BAB ku menjadi keras. Tapi alhamdullilah setelah dua hari mulai lancar kembali. Aku tidak meminum obat apapun lagi kecuali obat lambung saja. Takut kebanyakan obat dan kerja lambung jadi berat.
Saat ini aku berjuang mengatasi kecemasan dimana panic attack itu bisa datang kapan saja dan tiba - tiba. Kemaren aku belanja di indomart dan tiba - tiba pandangan mulai goyang - goyang. Langsung aku minta minyak kayu putih dan mulai atur nafas. Aku merasa sedikit down saat ini karena kecemasan ini menjadikan tubuh aku jadi lemas dan performa kerjaku terganggu. Aku tinggal hanya berdua dengan suami, dan mulai khawatir jika suami sedang terbang maka aku hanya sendirian di rumah. Aku harus bisa mengatasi rasa cemas ini. Untuk kalian semua yang punya masalah yang sama, yuk mari tetep semangat menghadapi rasa cemas kita. Lain kali aku akan share hal - hal yang kudapat dari internet mengenai GERD dan anxiety ini. Tapi saat ini mungkin kalian bisa cek youtube channel nya Siska Valentina https://www.youtube.com/@SiskaValentina Siska ini seorang penderita GERD dan anxiety yang banyak berbagi tentang perjalanan dan tipsnya menghadapi penyakit itu.
Jangan lupa untuk menerapkan 3P dalam dirimu: Pola Pikir, Pola Makan dan Pola Hidup yang sehat. Jangan lupa BAHAGIA 😻
Tetap Semangat ya..
Dee