Hi Deears,
Apakah kamu sudah bersyukur hari ini? Apa saja yang kamu syukuri? Coba pikir sebentar, dari hal - hal kecil sampai hal - hal besar. Ketika kita bersyukur, hidup kita menjadi damai. Iya kan? Tapi ternyata banyak sekali orang yang masih belum merasa damai dalam hidupnya. Padahal dia berkelimpahan harta, berwajah cantik atau ganteng, tapi masih saja dia bilang bahwa dia tidak bahagia. Kenapa ya? I am trying to convey my opinion about it in this article.
One day, ada teman yang bertanya pada saya, kenapa saya masih muda tapi pemikiran saya sudah seperti orang tua (yang dimaksud orang tua adalah beliau - beliau yang sudah berumur 60 tahun ke atas). Lalu saya bertanya pemikiran saya yang mana yang dimaksud. Ternyata maksud dia adalah tentang menjadi ikhlas menjalani kehidupan, sehingga saya selalu damai dan bahagia. Saya tersenyum karena sebetulnya sayapun masih belajar tentang keihlasan ini. Tanpa bermaksud menggurui, saya mau berbagi poin dari percakapan saya dengan teman saya (yang memang jauh lebih muda dari saya) tentang keihklasan.
Sebagai manusia yang beriman dan ber-Tuhan, kita harus punya konsep bahwa Tuhan selalu mengasihi kita. Jadi jangan pernah protes 'Kenapa hidupku susah?' dan kemudian menyalahkan Tuhan. Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk kita. Bahkan ketika kita seorang pendosa, Tuhan tak pernah meninggalkan kita. Tuhan tetap mengasihi kita, karena Tuhan tetap menunggu pertobatan kita dan pasti kita dimaafkan.
Kenapa hidup susah? Kenapa selalu gagal? Mungkin kita harus kembali lagi melihat proses kita mencapai tujuan kita. Kebanyakan yang kurang bisa menerima kegagalan itu memang yang masih muda - muda. Karena biasanya mereka di umur yang masih sangat produktif itu menganggap kesusksesan dalam hidupnya adalah sebuah kompetisi dengan orang lain. Bisa jadi dalam hal cinta pun juga begitu. Melakukan segala cara untuk bisa menyingkirkan saingan dalam mendapatkan pasangan. Waduh...jangan ya hahahha. Sementara orang yang sudah tua (berikutnya saya akan pakai istilah seniors), karena memang masa produktifnya sudah lewat, jadi biasanya cara mereka menjalani hiduppun dengan lebih ikhlas dan legowo.
Nah, saya tidak menyarankan orang muda untuk bergaya seperti para seniors itu ya...Tapi, pemikiran soal hal ikhlas dari para seniors ini bisa kita tiru lho. Caranya bagaimana? Tidak sulit kok.
Pertama, ketika kita mempunyai sebuah tujuan maka kita harus pastikan bahwa kita tahu pasti langkah - langkah dalam mencapai tujuan itu dan bahwa kita mampu untuk mencapainya. Kalau sudah teliti dan hati - hati tapi masih gagal, maka jangan menyalahkan orang lain dengan mengatakan 'Seharusnya kamu...' atau menyalahkan Tuhan. Kecewa pasti dan itu boleh banget ya....tapi kita harus bisa mengekspresikan rasa kecewa itu dengan prilaku yang positif. Yaitu, menerima bahwa segala sesuatu terjadi atas seijin Tuhan. Bukankah Tuhan Maha Tahu? Jadi Tuhan dari awal memang sudah tahu bahwa kita akan gagal dalam usaha - usaha kita. Pasti Tuhan punya maksud baik. Karena itu, kita harus sabar dan ikhlas menerima kegagalan itu. Sehingga kita pada akhirnya bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Gagal, santai saja dan coba lagi. Jangan menyerah.
Kedua, hiduplah sesuai kemampuan. Jangan pernah menyamakan standar hidup orang lain dengan standar hidup kita. Karena bila kita menggunakan standar hidup orang lain untuk mengukur kesuksesan kita, itu tidak bijak. Bisa membuat kita jadi sombong melihat mereka yang kurang dari kita atau justru membuat kita terengah - engah mengejar banyak hal agar kita sama dengan orang lain yang standar hidupnya lebih tinggi dari kita. Kalau kita bisa menerima keadaan kita dan menyukurinya, maka hidup kita akan damai dan jauh dari rasa iri.
Terakhir, kendalikan emosi kita. Kadang kita marah, tetapi orang yang bijak bisa marah dengan elegan. Tidak perlu berteriak - teriak atau bahkan saying bad words. Ada banyak cara marah dengan elegan kok. Contohnya ketika marah kita bisa mainkan tone suara kita menjadi lebih tegas. Poinnya adalah pada cara menyampaikan pesan bahwa kita marah atau ketika kita marah, bukan pada kata - kata yang kita sampaikan. Saya biasa memanggil murid saya dengan nama lengkapnya ketika saya marah. Murid saya semua sudah hafal akan hal ini. Jadi kalau biasanya saya panggil murid saya dengan nick name nya dia, kemudian di suatu saat dia melanggar aturan di kelas, maka saya tak perlu banyak berkata - kata. Saya panggil dia dengan nama lengkap dan tone yang tegas. Maka dia paham, ada suatu hal yang salah. Marah dengan teman atau pasangan? Tidak perlu teriak, ajak diskusi saja, tapi kalau memang hal tersebut tidak penting untuk diperpanjang, maka just ignore and move on. Jangan buang waktu untuk memikirkan hal - hal yang tidak perlu karena masih banyak hal penting dalam hidup kita yang perlu kita urus.
Ketika kita bisa melakukan ketiga hal tersebut, maka artinya kualitas hidup kita sudah matang, sudah menjadi dewasa. Ingat, kedewasaan itu tidak ada hubungannya dengan umur ya. Nah, seorang yang dewasa akan lebih damai menjalani hidup dan menjadi bahagia. Karena dia sudah dalam tahap bisa berdamai dengan diri sendiri. Sudah bisa menguasai segala perang dalam dirinya sendiri.
Jadi, apakah kita sudah siap menjadi dewasa?
Happy Weekend
Dee





































