Tuesday, 11 May 2021

Terlanjur Nyaman atau Terlanjur Stress?? (A Contemplation)

  Hi Deears,

Sudah berapa lama sih kita dalam keadaan pandemik seperti ini? Sudah setahun lebih ya? Sudah selama itu pula kita hidup dalam situasi yang tidak bisa diprediksi. Sudah selama itu pula pemerintah kita dan kita sebagai rakyatnya berjuang mati - matian untuk mengatasi virus dan juga beradaptasi dengan gaya hidup baru. Jadi apa kabar kalian? Saya mau sedikit bercerita tentang perubahan emosi saya yang naik turun karena keadaan ini.

Jadi, seperti postingan saya sebelumnya, saya merasa cukup sukses menghadapi situasi 'sontoloyo' ini. Saya punya banyak waktu melakukan hobi dan mencari cara untuk STAY SANE and HEALTHY. Tapi, namanya manusia kita punya keterbatasan. Diantara senangnya saya kebanjiran murid les, ternyata disisi lain saya harus kehilangan pekerjaan yang membuat saya bisa dekat dengan anak - anak. Ini bukan salah siapa - siapa, bukan karena saya kerja nggak bener ataupun kena skandal cyber crime itu (yang ini saya akan bahas tersendiri lain kali). Ini hanya temporary matters yang lebih merupakan impact dari covid di bidang usaha. Ya, covid 19 sudah memporak - porandakan berbagai macam bidang bisnis, termasuk pendidikan a.k.a sekolah/lembaga kursus. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan atau menutup usaha sehingga, memutuskan memindahkan anaknya ke sekolah lain yang lebih terjangkau ataupun ke tempat les seperti tempat saya. Mereka hanya perlu belajar mata pelajaran yang diujikan saja. Pemikiran ini berimbas pada kondisi sekolah formal tentunya, yang akhirnya kehilangan murid dan yang berarti pihak management pun perlu melakukan cost cutting, bukan hanya sekedar cost reduction lagi. 

Saya paham, totally understand karena saya pun mengalami hal yang sama. Saat ini, saya hanya bergantung pada dua guru dan saya ikut terjun mengajar. Shy? Sad? Definitely NO!! Why should I? kenapa harus malu? Saya belajar dari PIZZA HUT yang tidak malu untuk jemput bola. Perusahaan sebesar itu, menjual produknya di jalanan....dan mereka bisa survive.  Jadi itulah yang saya lakukan. Saya dengan tidak tahu malu tetap melakukan branding dimana - mana, approach prospective customers, ngobrol sana sini dan begitulah....alhamdullilah dengan hanya 3 orang guru, kami masih jalan. Siapa saja customer kami sih? Untuk saya yang pegang anak SD sudah cukup lama, pastilah client saya adalah bekas murid2 saya pada awalnya, kemudian karena saya punya koneksi di bidang oil and gas ataupun mining company, maka untuk kelas karyawan rata - rata datang dari bidang tersebut. Sementara itu, partner saya adalah mantan AVIATOR yang juga seorang dosen, jadi dengan kemampuannya bicara 5 Bahasa FLUENTLY dan juga koneksinya di bidang aviation, maka berdatanganlah client dari bidang itu. Satu guru lagi lebih fokus pada mengajar baca (saya sendiri lho yang training dia hehe). Pada akhirnya, karena kami mengajar dengan hati dan selalu berusaha memberikan yang terbaik, maka from mouth to mouth justru nama kami pribadi yang dikenal sebagai guru les bukannya nama brand kami. But, it doesn't matter. Untuk situasi pandemik ini, saya harus putar otak dan pasang strategi just in case pada akhirnya keadaan kembali seperti semula. Apa yang bisa dilakukan dan dikerjakan dulu, itulah prioritas saya. Bila sebelumnya saya berpikir tentang 5 tahun ke depan, maka sekarang fokus saya adalah berpikir lebih pendek, 6 bulan kedepan. 

Jadi kembali ke judul diatas apakah kondisi ini kemudian membuat saya nyaman atau stress? Well, saya bisa beradaptasi bahkan bisa dibilang saya tahu zona nyaman saya dalam situasi seperti ini. Tapi begitu saya harus melepas pekerjaan saya di sekolah, maka saya mulai disibukkan dengan interview disana sini. Banyak orang bertanya, kenapa saya masih pursue career to be a teacher kalau saya sudah mempunyai usaha sendiri, bahkan berencana mengambil gelar Master? Jawabannya, karena itulah PASSION saya. Itu kebutuhan saya dari dalam. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari bekerja di sekolah, termasuk bagaimana memanage sekolah. Ilmu yang asalnya dari teori, tetapi bila kita tidak terjun sendiri maka kita tidak pernah tahu. Dunia sekolah sangat dinamis, terutama anak - anak SD dimana ini adalah termasuk pendidikan dasar. Saya belajar hal yang kompleks dari setiap masalah yang ada dan masalah lain yang timbul darinya. Jadi ukuran saya disini bukan materi. Ini lebih pada kepuasan pribadi dan juga merupakan sebuah prestige untuk saya. 

Koneksi adalah hal yang penting bagi saya. Hubungan saya dengan mantan tempat kerja selalu harmonis. Jadi, begitu saya mulai melempar CV saya, saya pun mulai banyak mendapatkan undangan online interview dan tentunya saya akan pilih yang paling dekat, agar waktu saya tidak terlalu banyak terbuang karena saya masih mengurus hal lain. Jadi stress atau tidak? Saya tidak bisa bilang tidak, apalagi melihat tubuh saya kembali seperti semula dan rambut saya yang udah perlu dipotong. Gila, potong rambut aja sampai nggak sempet. Bukan karena saya sibuk sebagai Bos tapi lebih ke sebagai kuli sih hahhaha. Di awal tahun saya masih bisa gym setiap hari, sebulan sebelum Ramadan karena intensitas mengajar naik, saya gym hanya tiap weekend, sementara tiba - tiba cemilan saya berubah dari buah ke kue - kue manis. Alhasil, berat saya naik kembali sekitar 5 kg dan lengan dan perut saya (ini shaping focus saya) kembali seperti semula. Saya kesel dong, pasti. Tapi apa daya I don't have any other choice but accepting it. Saya kalah oleh keadaan. Jadi, seperti yang dulu pernah saya lakukan, saat ini adalah moment yang tepat untuk mundur selangkah. 

Hanya illustrasi daripada sepi 
So, mumpung anak - anak didik saya sedang liburan, saya pun mengambil kesempatan untuk melupakan pekerjaan saya sejenak. Saya berencana untuk staycation a while sambil menyusun strategi (karena HIDUP PERLU STRATEGI). Semoga hasilnya bagus. Di saat saya melakukan contemplation seperti ini, saya tidak mau diganggu, bahkan oleh orang terdekat saya. Ini cara saya bisa berpikir ulang, mengevaluasi dan memperhitungkan segalanya. 

Dua partner saya itu, mereka hidup bak di surga karena mereka tidak terikat sama sekali dengan instansi. Hanya mengajar dengan saya saja. Jadi waktu luang mereka cukup banyak untuk keluarga dan juga untuk melakukan hobi mereka. Saya sempat berpikir, ah....mungkin saya cukuplah urusin usaha saya ya, sehingga bisa punya lebih banyak waktu untuk saya sendiri. Tapi sekali lagi, this is about my well - being and being acknowledged is part of it.  Jadi, saya tahu saya ada tanda - tanda burn - out sehingga saya memutuskan untuk menjadi kepompong dulu, berlindung dalam pupa buatan saya sendiri. Saya berharap, ketika keluar nanti saya menjadi kupu - kupu yang cantik. 😘😍

Salam aktif dari saya yang nggak bisa diam.

XoXo
Dee

Another Year, Another Resolution

Hi...Deears.. How do you end this year? I wish you end it with a grateful heart 😊  Everyone for sure has problems, obstacles in their life....