Sunday, 27 December 2020

Mi Gatito Besso; Bengal atau Bukan




Begitu baca judulnya, kalian semua pasti tau aku mau ngomongin apa. Yup, bener banget. Aku mau share cerita aku ngerawat kucing – kucing yang aku ambil dari jalanan. Dari jalanan? Iya deears, jadi aku tuh paling nggak tega ngeliat anak kucing yang stranded kelaperan di jalanan. Biasanya misi penyelamatan anak – anak kucing ini aku lakukan untuk kitten yang memang nyaris mati di jalanan. Nah, tiga tahun ini, aku tinggal di sebuah apartment di seputaran Lippo Mall Puri, Jakarta Barat. Setau aku, di daerah ini tidak ada taman ataupun hutan kota. But for my surprise, dua bulan lalu, basement apartment aku tiba – tiba dapat serangan koloni kucing kucing liar, entah darimana dan entah bagaimana mereka bisa sampai ke basement parkiran.

Mungkin karena penghuni apartment disini baik – baik dan suka kasih makanan kucing, maka makin hari jumlah kucing – kucing yang entah munculnya darimana ini makin lama makin banyak. Selain memberi makan, para penghuni berinisiatif memberi obat kutu pada kucing – kucing ini. Hanya saja sepertinya obat kutu milikku adalah yang paling manjur. Hanya sekali semprot, langsung semua kutu mati berjatuhan dan jujur kutunya itu buanyaaakkkkk buangeett. Sayang, aku nggak sempat fotoin kutu – kutu yang berjatuhan dari tubuh kucing – kucing itu. Buat pet lovers, lihat gambar di bawah. Obat kutu ini recommended banget, makenya juga gampang, tinggal disemprot doang dan nggak beracun buat si kitten. Namanya Stop – Tick.

Nah, dari sekian banyak kucing – kucing itu, ada sekelompok kucing kampung, yang selalu setia menungguku di pintu basement. Kelompok kucing ini dipimpin oleh seekor kucing jantan muda berbulu hitam (kira – kira 5 bulanlah umurnya), yang oleh temanku diberi nama Micio. Micio selalu mengeong tiap kali melihat kami datang, dan dia akan membagikan makanan yang kami sebar ke koloninya; tiga anak kucing betina dan seekor anak kucing dekil berbulu unik. Dari awal, aku tidak pernah memberi perhatian khusus pada si kucing dekil ini, karena selain dia susah dipegang dan susah diajak berinteraksi, bulunya pun berondol disana sini. Aku sempat berpikir bulunya adalah hasil keisengan manusia yang mungkin sempat memegangnya dan mencukur bulu – bulunya. Meskipun paling kecil, tapi dia yang paling cerdas dan lincah. Ternyata justru temanku sangat tertarik untuk menaklukkan si dekil ini. Setiap hari dia berusaha mendekati si dekil, tapi selalu gagal. Sampai setelah dua minggu, akhirnya dia mencoba menarik perhatian si dekil dengan makanan basah. Si dekil masih mengendap – endap waspada ketika dia mencoba memakan makanan itu. Tapi setelah makan, dia mengeong dan mengijinkan temanku memegangnya. Oh…ternyata dia lebih suka makanan basah daripada biskuit kucing. Hari berikutnya, kami kasih dia makanan basah lagi, dan kali ini aku ambil dia karena kulihat dia tidak berteman dengan baik di koloni itu. 

Langkah pertama tentu memperkenalkan si dekil pada Bessa, kucing ningratku. Hahhahh, ningrat karena dia ini lembut hati dan tidak sombong. Bessa adalah kucing betina yang belum pernah kawin, tapi ini bukan kali pertama dia kenalan sama kucing kecil. Dulu, aku nemu kucing putih, dan entah bagaimana tiba – tiba si kucing ini udah menyusu sama Bessa, padahal Bessa nggak keluar air susunya karena dia belum pernah hamil. Begitu lihat si dekil, Bessa was quite welcome ya, tapi justru si dekil yang menggeram – geram nggak mau di dekati Bessa. Disinilah adegan savage berdarah terjadi. Sewaktu aku berusaha membelai si dekil di depan Bessa, si dekil mencoba mencakar wajah Bessa. Bessa yang panik, secara reflek mencakar balik. Karena si dekil begitu kecil, hanya setangkupan telapak tanganku, Bessa kesal karena tanganku menghalanginya, dan untuk kali pertama my princess Bessa mimi mencabik punggung tanganku. Seriously, dia menggigit punggung tanganku cukup dalam dan darah yang keluar lumayan banyak. It left scars, you can see now. Belum lagi some scratches di sekujur tanganku karena mencoba melindungi si dekil dari serangan Bessa yang terluka harga dirinya.  Setelah drama pertama selesai, lanjut ke drama berikutnya, yaitu memandikan si dekil. Sebelum aku mandikan, si dekil aku semprot obat kutu dan OMG…kutu nya lebih banyak kayaknya daripada jumlah bulu – bulu ditubuhnya. Acara mandi sebetulnya cukup menguras emosi, karena si dekil meronta – ronta nggak mau kena air. Tega nggak tega tapi harus tega. Akhirnya aku berhasil mandiin si dekil, karena pada akhirnya dia lemas kedinginan dan kehabisan tenaga. Setelahnya, aku keringin badan nya yang kurus dan aku bunuh kutu – kutu di badannya yang berusaha kabur. Si dekil kuletakkan di atas rak sepatu, jauh dari jangkauan Bessa. Tampaknya dia nyaman disitu. Dia sama sekali tidak mau bergerak, dan ini sempat bikin aku khawatir. Semalaman dia nggak mau turun dan nggak mau makan. Bahkan saat kusodorkan mangkok makanan ke depan tubuhnya, dia tetep nggak mau makan. Tapi, pagi – pagi aku lihat makanannya berkurang. Lega. Berarti dia masih mau makan. Selama dua minggu, si dekil nggak mau berteman sama Bessa. They are hissing at each other. Sebetulnya Bessa mencoba menjilati dia, tapi selalu si dekil hissing first, so Bessa jadi ikutan galak. Di akhir minggu kedua, si dekil mulai sedikit berani. Dia berani turun, asal Bessa aku masukin kamar dulu dan kututup pintunya. Si dekil memakai kesempatan itu untuk poo sama pee dan makan. Habis itu dia akan balik lagi ke atas rak sepatu. Aku semakin sering membelai Bessa di depan si dekil, sampai akhirnya si dekil tampak merasa nyaman ada Bessa di dekatnya. Di minggu ketiga ini, si dekil sudah nggak dekil lagi. Oh ya, kita kasih dia nama Besso. Bulu – bulunya mulai tumbuh, dan motif bulu di badannya mulai jelas. Ternyata kucing dekil yang kita temukan di basement ini adalah seekor kucing liar deears, alias kucing Bengal, entah keturunan keberapa. Ini foto Besso di minggu ketiga dia aku rawat. 

Karena penasaran di itu turunan kucing liar atau bukan, maka aku coba searching tentang asal usul Bengal cat. Ternyata kucing ini ada 3 macam lho, tipe spotted, marbled dan mix dari kedua jenis itu menghasilkan sparbled (spotted and marbled). Nah, berikut ini sedikit rangkuman tentang si kucing hybrid Bengal.


Asal Usul

Kucing Bengal atau Blacan adalah hasil persilangan antara Asian Leopard (kucing hutan/liar Asia) dengan American Shorthair. Ini sedikit cerita asal usulnya yang kuambil dari internet. 

Kucing bengal adalah kucing hasil eksperimen dari dr. Centerwall. Dia adalah seorang ahli genetik yang tinggal di California, Amerika. Dalam percobaan genetiknya, Dr. Centerwall terobsesi untuk mendapatkan kucing domestik jenis baru dengan pola bulu spotted. Spotted itu kayak macan tutul gitu deh. Lalu, dr. Centerwall mengawinkan kucing american shorthair dengan kucing asian leopard. Dr. Centerwall memilih metode cara mengawinkan kucing konvensional. Namun, anakan dari hasil kedua persilangan ini belum sesuai. Kemudian, dr. centerwall mengawinkan anak betina hasil persilangan dengan bapaknya. Jadi, kucing ini kawin sedarah (inbreeding). Hasil dari perkawinan inbreeding tersebut menghasilkan kucing baru dengan pola bulu spotted (totol). Dr. Centerwall menamai kucing ini dengan nama latin Leopard cat yaitu felinebengalenis. What? panjang bener namanya? Hehe. Agar lebih praktis, banyak orang mengambil nama bengal-nya saja. Alhasil, kucing temuan dr. Centerwall ini dikenal dengan nama kucing bengal. (https://www.goldenmaze.net/jenis-motif-kucing-bengal/)

Nah, sekarang berdasarkan motif atau pola bulunya, si Bengal ini dibedakan menjadi 2. See these pics:

1. Pola Spotted (totol – totol)










2. Pola Marbled 










Eh..ternyata, masih ada satu pola lagi deears, bonus nih. Namanya Sparbled (Spotted and Marbled). Kucing ini meskipun dihargai cukup mahal, tetapi kurang diminati (katanya). Ini nih, contoh kucing Sparrbled. Aku coba cari foto yang lebih jelas, tapi susah banget. Intinya, kalau kalian lihat ada totol dan ada pola kayak potongan kue bolu gulung, artinya itu kucing Sparbled Bengal hehehhe..



Oke, balik lagi ke Besso. Jadi, dia ini Bengal atau bukan sih? Aku share foto terbaru dia ya. Sebelumnya, aku kasih tau dulu nih. Besso ini pintar, aktif, ceria, dan cukup vocal kalau laper dan marah. Dia juga nocturnal. Setau aku, kucing Bengal memang agresif dan pintar, tapi juga dia punya bonding yang cukup kuat sama ownernya. Jadi dia akan sedih dan stress kalau ditinggalin lama – lama deears. Melihat dari checklist ciri – ciri Bengal sih, dia masuk ya ke kategori Bengal. Bagaimana soal pola bulu? Bulu si Besso pendek, lembut dan haluuusss banget. Kupingnya Panjang dan runcing. Lehernya dilingkari beberapa garis hitam. Tapi, hanya satu yang ketemu ujungnya. Kakinya seperti memakai kaos kaki putih. Perutnya totol – totol hitam, tapi punggungnya bergaris dan badannya berpola marble. Warnanya perpaduan antara amber, brown dan hitam. Hidungnya merah dengan garis hitam di sekelilingnya, sama dengan bibirnya yang juga hitam. Warna matanya golden dan yang paling aku suka adalah pola garis di wajahnya. Ekornya lebih panjang dari setengah panjang tubuhnya dan berpola seperti cincin dengan bagian ujung berwarna hitam.

Awalnya dia makan biskuit kucing karena memang tidak ada makanan lain, tapi sekarang aku kasih dia makanan basah dan ayam rebus (yang mungkin untuk ayam nggak akan aku kasih karena dia jadi lumayan ganas). 

Tadinya kupikir, mungkin dia a Classic Tabby yang juga mirip – mirip Marbled Bengal, tapi kalau tabby nggak ada spot totol – totol di perut. So, check this pics out and help me if this is a Bengal or not. 



Ini Besso sehabis kumandikan di hari pertama aku temuin dia. 

Umurnya kira kira 2 bulan.








Perutnya totol - totol kan..







Motif punggung bergaris.                                                                         

Besso at the moment. Cepet banget pertumbuhannya.






Manjanya Besso sama aku….well, mungkin kita bisa bikin semacam tebak – tebakan ya, kalau dia Bengal, dia generasi keberapa dan hasil persilangan jenis apa. Sekian dulu ya deears. Di minggu ketiga aku rawat Besso, aku nemu satu kitten yang hampir mati di tempat yang sama, tapi ceritanya lain kali aja ya. Udah capek ngetiknya. See you soon. 


December 2020

XOXO

Dee


Another Year, Another Resolution

Hi...Deears.. How do you end this year? I wish you end it with a grateful heart 😊  Everyone for sure has problems, obstacles in their life....