Wednesday, 26 June 2013

The Grand Canyon of Jogjakarta

Sebagai seorang guru di sebuah sekolah swasta di Jakarta dengan jadwal  kerja yang cukup padat dan menguras tenaga, liburan tentu adalah suatu hal yang sangat mewah buatku. Ada dua kali liburan dalam setahun yang lumayan lama (masing - masing 2 minggu) yang bisa kumanfaatkan untuk melakukan hobi favoritku: menikmati alam dan berinteraksi dengannya dalam jarak dekat. Setelah Desember lalu aku ke Lombok bersama seorang kawan (yang sampai sekarang belum juga aku tulis disini), liburan kali ini aku memilih tempat yang spesial. Spesial karena terletak di Jogjakarta, lebih tepatnya di Gunung Kidul - tanah kelahiranku, yang artinya aku sekaligus pulang kampung. Spesialnya lagi jarak ke spot wisata alam tersebut hanya 30 menit berkendara dari rumahku, yang artinya benar - benar murah meriah sesuai dengan kondisiku yang sedang melakukan 'pengetatatn ikat pinggang' heu heu heu...dan akhirnya berdua bersama adik perempuanku tercinta, kamipun meluncur ke lokasi yang ternyata...buseeeettttt deeeehhhh....penuh dengan pengunjung baik lokal maupun manca negara yang ingin mencoba wisata ekstrem ini. 

Setelah sampai di lokasi, kamipun sepakat untuk memilih full paket yaitu: caving di gua sriti, rafting susur kali oyo dan caving di gua pindul. Total biaya per kepala cukup Rp. 90.000 saja dengan fasilitas sepatu karet, pelampung, helmet dan pemandu. Bandingkan dengan rafting di tempat lain dimana kita harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah. Sayangnya, kami tidak mendapatkan fotografer sehingga foto - foto yang kami ambil hanya mengandalkan hape kami saja. Jasa fotografer (kalau pas available) dipatok denga harga Rp. 100.000/lokasi.

Setelah berganti baju dan memakai peralatan yang diperlukan, kamipun segera bersiap menuju lokasi dipandu oleh seorang pemandu yang gagah dan baik hati bernama Mas Hendra. Mobil yang digunakan untuk transportasi adalah mobil pick up yang justru menambah keseruan ketika kami harus melewati medan yang terjal dan berliku. Mas Hendra menyarankan kami untuk mengikuti off road dan out bond, karena mereka juga menyediakan Jeep dan wahana out bond seperti flying fox dsb nya. Tapi kami memutuskan untuk mencobanya di lain hari.

Di bawah itulah mulut guanya

Bersama Mas Hendra, pemandu kami yang baik hati dan sabar :)
Tak lama kemudian, sampailah kami di spot pertama yaitu Gua Sriti. Gua ini dulunya adalah pertahanan terakhir Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan Belanda. Bukit Menoreh (yang suka baca sejarah Jawa pasti tau deh ya) memang merupakan basis Pangeran Diponegoro dalam perangnya melawan Belanda. Pangeran yang bernama kecil Raden Mas Ontowiryo ini adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono III dari salah satu selirnya. Diponegoro menolak keinginan ayahandanya yang akan mengangkatnya menjadi raja karena dia menyadari bahwa dia hanyalah anak seorang selir. Tetapi Diponegoro yang sudah muak dengan sikap Belanda yang menyiksa rakyat dan membebani dengan pajak yang tinggi punya caranya sendiri untuk melawan Belanda secara terbuka: yaitu dengan perang Sabil. Wah....kalau aku ceritakan semua sejarahnya kok jadi kayak kelas Social Studies yah (efek jadi guru sejarah :p). Mending untuk sejarahnya, silahkan di googling sendiri saja deh.

Gua Sriti ini terdiri dari 5 ruang dengan filosofi Islam yang sangat kuat. Berdasarkan cerita guru kunci,  5 ruang tersebut menggambarkan 5 Rukun Islam. Di setiap ruang terdapat rintangan - rintangan yang menggambarkan bahwa dalam menjalankan kehidupan duniawi manusia dihadapkan pada berbagai macam cobaan hidup. Sayangnya, baru masuk ruang pertama, aku sudah menyerah dan sudah panik berhubung gua itu gelap gulita sementara air setinggi leher dan kepalaku sudah langsung menyentuh atap gua - yang artinya lebar gua itu dari atas ke bawah hanya setinggi tubuhku saja. Kamipun harus mendongakkan kepala untuk mendapatkan udara dan menjaga kepala kami untuk tidak terendam air. Ngeeeeriiiiiiiiiiiiii, trauma tenggelam itu membuatku tiba - tiba menggigil kedinginan (emang dingin sih airnya hihihi) dan susah bernafas. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan masuk ke dalam sekalipun Mas Hendra sudah meyakinkan bahwa hanya di ruang pertamalah airnya setinggi leher. Setelah itu hanya setinggi perut dan lutut. Tapi memang kepala harus merunduk karena gua ini makin kedalam makin memendek. Aku memilih kembali daripada pingsan di dalam dan menunggu di mulut gua tembusannya. Setelah sekitar 30 menit menunggu, adikku dan Mas Hendra muncul dengan pakaian basah kuyup. Adikku bercerita bahwa di dalam view nya sangat indah, banyak lubang - lubang di atap gua bekas sarang burung sriti (sejenis burung walet tapi ukurannya lebih kecil) setiap kali dia mengarahkan senternya ke atas.

Destinasi kedua adalah rafting menggunakan ban di sepanjang kali Oyo. Medan yang kami lalui terjal dan berliku dan kami memilih untuk berdiri di bak mobil terbuka itu. Begitu sampai kamipun tidak membuang waktu untuk segera menikmati pemandangan yang menurut para pengunjung seperti Grand Canyon yang di Arizona sana. Bersama Mas Hendra yang sangat sabar dan telaten, kamipun menyusuri sungai Oyo yang arusnya sedikit tenang siang itu. Dan inilah foto - foto (yang sayangnya diambil di bagian aliran sungai yang tenang) kami yang tetep saja narsis di setiap kesempatan. hahahaha...



Pose 1 hehe
Pose 2 LOL
Setelah puas berenang, free jumping dari bebatuan yang tinggi (tentunya bukan aku yg melakukan ini ya hahaha) dan mandi di air terjun, kamipun melanjutkan ke destinasi terakhir: Gua Pindul yang sudah mendunia (begitu sih istilah para pemandunya). Ternyata memang benar lho....gua ini padat pengunjung dari berbagai suku bangsa dan manca negara. Bahkan kami harus antri terapung - apung cukup lama dengan ban untuk memasuki mulut gua.

narsis sewaktu ngantri di depan mulut gua


Inilah mulut guanya. Kami harus antri satu persatu dengan bergandengan ban seperti ini.

Gua Pindul ini juga punya sejarah sendiri (googling sendiri yaa hehehe). Terdapat empat spot disini: yang pertama spot terang, spot remang - remang, spot gelap abadi dan spot cahaya surga (waduuhhhh...lebai ya kayak yg nulis :p). Aku berani bersumpah bahwa kalian tidak akan menyesal memasuki gua ini karena selain medannya cukup mudah dilalui (kita cuma cave tubing pake ban lho) view stalagtit nya luar biasa (ada batuan kristalnya jugaaaa). Dan aku sempat terkena tetesan air dari kumpulan stalagtit berbentuk kumpulan 'kacang' nya wanita (ampun deh bahasa gue :p) yang dipercaya bisa membuat wanita menjadi lebih cantik luar dalam dan awet muda (asiiikkkkkkkkkkkkkkkkkkkk....hihihhih). Dan bapak - bapak dibelakangku menjerit genit ketika terkena tetesannya, pura - pura jadi bences (ahhh...modus menarik perhatian wanita biar kenalan huummm..). Eittsss....buat kaum adam jangan ngiri...ada batu lingga yang dipercaya bagi yang menyentuhnya akan jadi tambah ganteng dan perkasa (sayang suami gue gak ikut ya..hihi). Selain stalagtit, lagi - lagi kami disuguhi pemandangan sarang burung walet (yang sudah berimigrasi karena suhu yg menjadi terlalu panas) di sepanjang atap gua. Anndddd.....banyak makhluk kecil sebesar tikus bergelantungan, apa lagi kalau bukan kelelawar kecil yang biasa disebut KAMPRET (oohhhh....my husband loves this word so much for joking). Di ruang gelap abadi ini kami melewati sebuah tunel yang benar - benar hanya cukup dilewati satu ban saja dan bahkan kami harus melipat kaki, bersila agar ban kami bisa muat melewatinya. Setelah ruang gelap abadi yang tdk akan pernah kena sinar matari ini, sampailah kita di ruang terakhir dimana kami kembali memisahkan diri dari ularan kami yang panjang untuk berenang dan berfoto, mengabadikan cahaya surga - sebutan untuk cahaya matari yang masuk melaui celah - celah atap gua yang berongga.

Bermandikan cahaya surga...semakin sore cahaya akan semakin indah, dengan catatan cuaca cerah ya.


Puas berenang, free jumping kemudian kehilangan sandal dan berfoto bersama teman - teman.

 Berbagai incident seram memang pernah terjadi di spot - spot wisata ini. Seperti beberapa waktu lalu delapan wisatawan terjebak di Gua Sriti karena air yang tiba - tiba pasang dan juga ditemukannya mayat dua anak kecil yang bergandengan tangan di mulut gua pindul. Satu hal yang perlu dicatat bahwa dibalik mitos yang ada, memang ada baiknya kita mengikuti semua prosedur yang berlaku agar aman, nyaman dan selamat. Jangan merusak alam karena alam punya caranya sendiri untuk menghukum anda. Satu hal lagi, jangan pernah masuk ke gua tanpa pemandu, karena sekalipun anda jago berenang, entah apa yang terjadi, tanpa pemandu anda akan kesulitan. Mungkin karena pemandu ini adalah penduduk asli yang sudah cukup kenal medan (bahkan mereka tau dimana ada batu yang bahkan kita tdk bisa melihatnya di bawah air) dan terlatih. Jangan lupa memberi tips pada pemandu ya :) Diawali dengan doa dan niat tulus ...wisata alam anda akan menjadi sebuah adventure yang tak terlupakan. 

Salam mwaahhhh...
Dee :)

Another Year, Another Resolution

Hi...Deears.. How do you end this year? I wish you end it with a grateful heart 😊  Everyone for sure has problems, obstacles in their life....